id info@uui.ac.id (0651) - 7555566 +62 82267811082
id info@uui.ac.id (0651) - 7555566 +62 82267811082

Dosen UUI Ubah Limbah Udang Jadi Plastik Ramah Lingkungan, Solusi Pengganti Plastik Biasa

BANDA ACEH – Siapa sangka, limbah kulit udang yang selama ini hanya dianggap sampah ternyata bisa disulap menjadi plastik ramah lingkungan?

Itulah inovasi yang sedang dikembangkan Pardi ST MT dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ubudiyah Indonesia (FIKes UUI), melalui riset bioplastik antibakteri sebagai alternatif plastik konvensional.

“Riset ini berawal dari keprihatinan saya terhadap tingginya limbah plastik di Aceh dan Indonesia. Plastik konvensional butuh puluhan tahun untuk terurai, dan itu jelas berdampak buruk bagi lingkungan,” ujar Pardi dalam program talk show Dosen Berbicara di stasiun televisi UB on TV, Rabu (1/10/2025).

Risetnya yang berjudul “Pengembangan Bioplastik Antibakteri Berbasis Kitosan dari Limbah Kulit Udang dengan Penambahan Minyak Nilam” berhasil meraih hibah Penelitian Dosen Pemula (PDP) 2025 dari Kemdiktisaintek.

Menurut Pardi, Aceh memiliki limbah kulit udang yang melimpah namun jarang dimanfaatkan.

Padahal, kulit udang mengandung kitin yang dapat diolah menjadi kitosan.

Bahan inilah yang kemudian dipadukan dengan tongkol jagung dan minyak nilam, sehingga tercipta bioplastik yang cepat terurai sekaligus memiliki sifat antibakteri.

“Kalau plastik biasa mudah koyak, bioplastik ini justru lebih kuat, aman untuk kemasan makanan, dan tetap cepat terurai, tidak sampai puluhan tahun,” jelasnya.

Sementara minyak nilam yang selama ini dikenal sebagai bahan parfum, dalam penelitian ini berfungsi ganda, yakni sebagai zat antibakteri sekaligus mempercepat proses penguraian bioplastik.

Hasil uji coba menunjukkan bioplastik dari limbah kulit udang dan minyak nilam ini memiliki ketahanan tarik yang lebih baik dibanding plastik pasaran.

Meski begitu, ia mengakui masih ada tantangan, terutama pada tahap uji laboratorium yang memerlukan peralatan canggih dan sering terkendala teknis.

Penelitian ini juga melibatkan mahasiswa serta menjalin kolaborasi dengan Universitas Syiah Kuala (USK).

Ke depan, Pardi berharap riset ini bisa melangkah ke tahap hilirisasi hingga produksi massal.

“Kalau ada dukungan dana lebih besar, insyaAllah bioplastik ini bisa diproduksi skala industri. Harapannya, selain mengurangi pencemaran plastik, inovasi ini juga membuka peluang lahirnya industri ramah lingkungan di Aceh,” pungkas Pardi.

Sebagai perguruan tinggi yang konsisten mendorong lahirnya riset dan inovasi, UUI terus berkomitmen menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.

Melalui dukungan penelitian dosen dan kolaborasi dengan berbagai pihak, UUI membuktikan diri sebagai kampus yang tak hanya fokus pada pendidikan, tetapi juga melahirkan karya yang bermanfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan pembangunan Aceh ke depan. (*)

Leave a Reply