id info@uui.ac.id (0651) - 7555566 +62 82267811082
id info@uui.ac.id (0651) - 7555566 +62 82267811082

APTIKOM Dorong Sinergi Kampus dan Industri untuk Wujudkan Aceh Cerdas Digital

BANDA ACEH – Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Ilmu Komputer (APTIKOM) Wilayah Aceh menegaskan pentingnya sinergi antara kampus dan industri dalam mencetak generasi muda Aceh yang cakap dan cerdas digital.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Harian APTIKOM Aceh, Zulfan ST MT dalam program UB Podcast UB on TV bertema “Membangun Aceh, Sinergi Kampus dan Industri Mewujudkan Aceh Cerdas Digital”, Rabu (12/11/2025).

Menurut Zulfan, APTIKOM berperan sebagai wadah bagi program studi di bidang informatika dan ilmu komputer di seluruh Indonesia, termasuk Aceh guna memastikan lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri.

“Kita menyusun kurikulum berbasis industri agar lulusan siap pakai dan mampu bersaing secara nasional maupun global,” ujarnya.

Zulfan menekankan bahwa konsep Aceh Cerdas Digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang kebijaksanaan dalam memanfaatkannya.

“Cerdas digital berarti mampu menggunakan teknologi secara bijak dan produktif. Generasi Aceh harus menggunakan alat digital untuk hal-hal positif yang meningkatkan produktivitas, bukan sebaliknya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa APTIKOM mendorong implementasi Outcome Based Education (OBE) di kampus-kampus anggota.

Pendekatan ini menitikberatkan pada kemampuan praktis mahasiswa agar dapat langsung terserap oleh dunia industri.

“Kampus punya lulusan, industri butuh tenaga kerja. Karena itu, kurikulum harus selaras dengan kebutuhan industri agar terjadi keseimbangan antara demand dan supply,” tambahnya.

APTIKOM juga aktif menjembatani kerja sama antara kampus dan dunia usaha melalui program seperti Magang Berdampak.

Demikian, melalui kerja sama tersebut, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman langsung di industri, baik skala lokal maupun nasional.

Namun, Zulfan juga mengakui bahwa tantangan utama di Aceh adalah masih terbatasnya industri digital berskala besar yang bisa menampung mahasiswa untuk magang.

“Kita harus tahu apa kebutuhan industri di Aceh agar kurikulum bisa disesuaikan dengan kearifan lokal dan kebutuhan nyata daerah,” ujarnya.

Selain pembenahan kurikulum, APTIKOM juga secara rutin memberikan pelatihan bagi dosen agar mereka mampu menjadi pendidik yang cakap dan cerdas digital.

“Dosen harus terus belajar agar dapat menularkan kecakapan digital kepada mahasiswa. Dengan begitu, mereka tidak hanya melek teknologi, tapi juga bijak dalam menggunakannya,” tegasnya.

Menanggapi perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan ChatGPT, Zulfan menilai teknologi tersebut bagaikan dua sisi mata uang yang memiliki dampak positif sekaligus negatif.

Mahasiswa harus diajarkan untuk memanfaatkan AI secara cerdas. Jangan hanya menyalin hasilnya mentah-mentah, tetapi pahami dan olah kembali informasinya,” pesan Zulfan.

Menutup perbincangan, Zulfan mengajak seluruh pihak baik pemerintah, kampus, industri, maupun masyarakat untuk berkolaborasi mewujudkan Aceh Cerdas Digital.

“Kita tidak bisa melakukan ini sendiri, kuncinya adalah kolaborasi. Pemerintah membuat kebijakan, kampus menyiapkan SDM, industri menyediakan ruang praktik, dan masyarakat ikut mengedukasi. Bersama, kita bisa menciptakan generasi Aceh yang unggul dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045,” tutup Zulfan.(*)

Leave a Reply