PIDIE JAYA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) mendorong masyarakat Desa Sagoe, Kecamatan Tringgadeng, Pidie Jaya, untuk memanfaatkan bahan sederhana menjadi produk kebutuhan rumah tangga yang bernilai ekonomis. Salah satunya melalui kegiatan pembuatan sabun cuci piring SHIMEL CLEAN yang dilaksanakan pada 1 September 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN UUI dalam memberikan keterampilan praktis kepada masyarakat, khususnya warga terdampak, agar mampu menghemat pengeluaran rumah tangga sekaligus melihat peluang usaha dari produk yang dapat dibuat secara mandiri.
Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKN Desa Sagoe, Yawma Wulida SPd MPd, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat yang dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang cara membuat sabun cuci piring, tetapi juga menjadi keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk menghemat kebutuhan rumah tangga dan dikembangkan menjadi peluang usaha,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan langsung masyarakat menjadi salah satu hal penting dalam pelaksanaan program KKN. Dengan ikut mempraktikkan proses pembuatan, masyarakat diharapkan memiliki pengalaman dan keberanian untuk membuat produk tersebut secara mandiri setelah kegiatan berakhir.
Dalam praktiknya, mahasiswa KKN UUI memperkenalkan sejumlah bahan yang digunakan dalam pembuatan SHIMEL CLEAN, di antaranya texapon sebagai bahan utama pembentuk busa, EDTA sebagai bahan pengawet, sodium sulfat dan garam sebagai bahan pengental, jeruk nipis sebagai bahan alami yang membantu mengikat lemak, bersifat antibakteri, serta membantu menghilangkan bau amis, dan air sebagai pelarut.

Mahasiswa KKN UUI juga mendampingi masyarakat secara langsung dalam proses pembuatannya. Bahan-bahan seperti texapon, EDTA, dan sodium sulfat terlebih dahulu dilarutkan dengan air secukupnya.
Selanjutnya, bahan dicampurkan ke dalam wadah besar yang berisi texapon dan air, kemudian diaduk hingga merata.
Setelah proses pencampuran selesai, sabun didiamkan selama kurang lebih 24 jam sebelum dapat digunakan.
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Warga tidak hanya menyaksikan proses pembuatan, tetapi turut mempraktikkan secara langsung tahapan pembuatan sabun yang diperkenalkan oleh mahasiswa KKN UUI.
Bagi mahasiswa KKN UUI, kegiatan ini tidak hanya bertujuan memberikan keterampilan membuat sabun cuci piring, tetapi juga mendorong masyarakat agar lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Produk yang dibuat sendiri dapat digunakan sesuai kebutuhan sekaligus berpotensi dikembangkan menjadi usaha rumahan yang mampu meningkatkan perekonomian warga terdampak di Desa Sagoe.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa KKN UUI dalam menghadirkan program yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga memberikan manfaat praktis dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.(*)

