BANDA ACEH – Dosen S1 Profesi Pendidikan Bidan Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI), Raudhatun Nuzul ZA SST MKes berhasil mengembangkan inovasi kesehatan berupa alat pendeteksi nyeri haid berbasis Internet of Things (IoT) yang diberi nama Dystrack.
Penelitiannya tersebut lolos pada program pendanaan Hibah Kemendiktisaintek 2025 dan menjadi terobosan baru di bidang kebidanan.
Dalam program talk show Dosen Berbicara di UBONTV, Raudhatun menjelaskan bahwa alat Dystrack ini dirancang untuk membantu perempuan usia subur mendeteksi tingkat nyeri haid tanpa harus bergantung pada obat-obatan kimia.

“Jadi alat ini cukup ditempelkan di lengan. Perangkat ini akan mengukur detak jantung dan suhu tubuh, lalu mengklasifikasikan nyeri dalam tiga tingkatan: ringan, sedang, dan berat. Hasilnya langsung terhubung ke aplikasi ponsel sehingga pengguna mendapat informasi serta rekomendasi penanganan yang tepat,” jelasnya.
“Selama ini banyak perempuan menganggap nyeri haid hal biasa dan langsung mengonsumsi obat. Padahal, dengan deteksi akurat, penanganannya bisa lebih tepat tanpa ketergantungan obat kimia,” tambahnya.
Penelitian ini melanjutkan riset yang pernah ia lakukan sejak 2017, seperti penggunaan rebusan kunyit asam, kompres hangat, dan senam dismenore sebagai metode non-farmakologis untuk mengurangi nyeri haid.

Selain ditujukan bagi masyarakat, lanjutnya, Dystrack juga berpotensi dimanfaatkan oleh tenaga medis, bidan, rumah sakit, maupun puskesmas sebagai alat bantu pemeriksaan kesehatan reproduksi.
Dari sisi akademik, penelitian ini akan menghasilkan publikasi internasional terindeks Scopus serta pendaftaran hak paten produk.
Ke depan, Raudhatun berharap alat ini diharapkan dapat disempurnakan untuk dikomersialisasikan dan digunakan secara luas.
“Ini bukan hanya prestasi individu, tetapi juga peluang bagi kampus untuk memperkuat kekayaan intelektual dan mendukung pembelajaran mahasiswa,” tambahnya.
Rodhatul juga membagikan tips bagi dosen muda yang ingin lolos hibah penelitian.
Menurutnya, proposal harus fokus pada isu yang berdampak langsung pada masyarakat.
“Yang penting jangan pernah menyerah. Kuncinya ada pada semangat dan riset yang benar-benar punya high impact,” tegasnya.
Dengan terobosan ini, Universitas Ubudiyah Indonesia kembali menunjukkan perannya dalam melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi dunia kesehatan dan masyarakat luas.(*)

